CJ Indonesia

Opini

Menghindar Dari Kepunahan

Dalam perkembangan jaman yang selalu mengalami perubahan yang sangat cepat ini, kita sebagai insan sosial yang berada dalam suatu ekosistem kehidupan tentu saja ikut terpengaruh pula terhadap situasi yang terjadi. Terkadang manusia atau organisasi perusahaan dihadapkan dalam situasi yang cukup sulit hingga dituntut untuk dapat mengambil suatu keputusan dan jalan keluar secara cepat, cermat, dan tepat sasaran. Selain daripada pengambilan keputusan yang baik, ada juga hal lain yang mempunyai peranan yang cukup signifikan terhadap keberlangsungan eksistensi kita yaitu Inovasi.

Berinovasi atau mati itulah semboyan baru yang perlu kita kumandangkan di zaman penuh perubahan ini. Apa itu inovasi..? Mengapa tanpa inovasi sebuah eksistensi bisa mati ? Kita dapat merumuskan inovasi sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dikonsumsi oleh masyarakat pelanggan atau konstituen kita untuk menyajikan seperangkat nilai yang berguna, yang atasnya kemudian kita layak mendapat nilai tukar yang sepadan dari mereka.

Nah, Inovasilah proses yang membawa nilai pelanggan ini dari belum ada menjadi ada. Contoh, air mineral Aqua adalah produk inovasi Tirto Utomo kepada masyarakat Indonesia. Oleh proses yang sama pula sebuah nilai yang sudah ada ( existing Value ) dapat diperbarui dan ditingkatkan menjadi lebih tinggi dan berkualitas. Misalnya, Alexander Graham Bell menyumbangkan nilai komunikasi bagi dunia melalui alat yang disebut telepon. Kemudian melalui sejumlah inovasi di berbagai tempat oleh berbagai orang pada berbagai fase, kini kita dapat memiliki telpon genggam multifungsi dan multiguna yang jauh lebih bernilai daripada telepon asli buatan Tuan belt dulu. Itulah esensi inovasi.

Berhubung kehidupan adalah sebuah ajang persaingan, dalam hal ini semua orang dan organisasi selalu bersaing untuk mendapatkan kesetiaan masyarakat konsumennya. Maka inovasi menjadi keharusan untuk tetap eksis dalam percaturan kehidupan. Tanpa inovasi, nilai yang kita sajikan kepada masyarakat akan ketinggalan dan usang, sehingga kehilangan nilai tukarnya sama sekali relative terhadap sajian nilai dari pesaing. Tanpa inovasi, kita akan melemah pelan-pelan dan akhirnya bangkrut tersisih , dan punah dari kehidupan masyarakat. Ini benar untuk tingkat lokal, benar pula untuk tingkat global. Ini benar untuk perusahaan, benar pula untuk organisasi lain seperti yayasan, paguyuban, bahkan Negara.

Runtuhnya Negara-negara dan punahnya bangsa-bangsa masa lampau seperti Babylonia, Assria, Makedonia, Romawi, Sriwijaya, Majapahit, Unisoviet dan lain-lain, pada tingkat paling fundamental dapat dipahami sebagai akibat hilangnya nilai atas eksistensi mereka. Tepatnya organisasi bangsa itu tidak dapat lagi menyajikan nilai yang bermanfaat bagi ekosistem dan konstituennya . Dari faktor benefit mereka berubah menjadi factor parasit.